<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>RTRWnet Kebon Jeruk</title>
	<atom:link href="http://www.bonjer.net/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bonjer.net</link>
	<description>&#34;Don&#039;t Worry, Be Happy&#34;</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Sep 2011 09:46:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hakikat Shalat</title>
		<link>http://www.bonjer.net/hakikat-shalat#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://www.bonjer.net/hakikat-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Aug 2011 12:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bonjer.net/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat Shalat
Meski semua ibadah kepada Allah adalah baik, tapi shalat adalah ibadah yang terbaik. Demikian dinyatakan oleh Al-Qur&#8217;an. Hadis, dan ungkapan para ulama dan sufi. Rasulullah bersabda : &#8220;Sebaik-baiknya amal adalah shalat pada waktunya.&#8221; Sayidina Ali bin Abi Thalib menyatakan : &#8220;Sesungguhnya amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah shalat. Bahkan, ia diriwayatkan melafazkan kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hakikat Shalat</strong></p>
<p>Meski semua ibadah kepada Allah adalah baik, tapi <a href="http://koeaingpisan.blogspot.com/2005/12/kasijalan-bertoebi2-itoe.html">shalat</a> adalah ibadah yang terbaik. Demikian dinyatakan oleh Al-Qur&#8217;an. Hadis, dan ungkapan para ulama dan sufi. Rasulullah bersabda : &#8220;Sebaik-baiknya amal adalah shalat pada waktunya.&#8221; Sayidina Ali bin Abi Thalib menyatakan : &#8220;Sesungguhnya amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah shalat. Bahkan, ia diriwayatkan melafazkan kata : &#8220;Shalat .shalat .&#8221; pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya. Sedangkan Imam Ja&#8217;far al-Shadiq &#8211; seorang pemimpin umat, sufi, dan filosof, guru Imam Abu Hanifah dan Imam Malik &#8212; juga menyeru : &#8220;Sesungguhnya sebaik-baik amal di sisi Allah pada hari kiamat adalah shalat&#8230;.</p>
<p>Namun, kita bertanya-tanya, kalau sedemikian penting nilai shalat dalam keseluruhan ajaran Islam, mengapa kita seolah tak banyak melihat manfaat shalat bagi orang-orang yang melakukannya? Mengapa negara-negara Muslim, yang di dalamnya banyak orang melakukan shalat, justru tertinggal dalam hal-hal yang baik dari negara-negara non-Muslim, dan menjadi &#8220;juara&#8221; dalam hal-hal yang buruk, seperti korupsi, misalnya? Mengapa tak jarang kita lihat orang yang tampak rajin menjalankan shalat, bahkan shalat jama&#8217;ah di masjid-masjid, tak memiliki akhlak yang dapat dicontoh? Apakah Allah Swt., telah melakukan kekeliruan ketika menyatakan bahwa &#8220;Innash-shalata tanhaa &#8216;anil fakhsyaa&#8217;I wal-munkar (Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar&#8221;? Apakah salah Rasul-Nya ketika menyatakan bahwa &#8220;jika shalat seseorang baik maka baiklah semua amalnya?&#8221; Shadaqa Allah al-&#8217;Azhim wa shadaqa Rasul Allah (Sungguh benar Allah Yang Maha Agung dan Rasul-Nya).</p>
<p>Jika ada kekeliruan dan kesalahan, maka itu tentu terletak pada pemahaman kita tentang firman Allah Swt., dan tentang shalat yang benar. Mari, untuk itu, kita simak ayat lain dalam Kitab-Suci-Nya :</p>
<p>&#8220;(Lukman menasihati putranya <img src='http://www.bonjer.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt="RTRWNET Kebon Jeruk Service Computer" class='wp-smiley' title="Service Computer" />  Hai Anakku, dirikanlah shalat dan perintahkanlah (kepada manusia) untuk mengerjakan yang makruf dan cegahlah (mereka) dari berbuat mungkar. Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya itu termasuk urusan-urusan yang tegas (diwajibkan oleh Allah) (QS. 31 : 17). Tampak dalam ayat yang barusan dikutip bahwa perintah mendirikan shalat dipisahkan dari perintah mengerjakan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Dengan kata lain, keduanya terpisah. Maknanya akan menjadi jelas ketika kita simak sabda Rasulullah, yang tampaknya dimaksudkan untuk menafsirkan ayat tersebut, sebagai berikut :</p>
<p>&#8220;Laa shalaata li man la tanhaahu shalatahu &#8216;anil fakhsyaa&#8217;i wal munkar (Tak melakukan shalat orang-orang yang shalatnya tak menghindarkanya dari kekejian dan kemungkaran)&#8221; . Jadi, alih-alih sebagai jaminan bahwa orang yang shalat pasti tercegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ayat tersebut mesti difahami sebagi definisi shalat yang sesungguhnya. Bahwa shalat yang benar akan termanifestasikan dalam kebaikan akhlak.</p>
<p>Menjelaskan lebih jauh pengertian ini, Imam Ja&#8217;far al-Shadiq menyatakan :</p>
<p>&#8220;Ketahuilah bahwa sesungguhnya shalat itu merupakan anugerah Allah untuk manusia sebagai penghalang dan pemisah (dari keburukan). Oleh karena itu, sesiapa yang ingin mengetahui sejauh mana manfaat shalatnya, hendaklah ia memperhatikan apakah shalatnya mampu menjadi penghalang dan pemisah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat yang diterima (oleh Allah) adalah hanya sejauh yang mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar&#8221;</p>
<p>Shalat yang tak memiliki sifat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar tak memiliki nilai sebagai shalat yang benar, sehingga ia tertolak, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang lain : &#8220;Adakalanya seseorang shalat terus-menerus selama 50 tahun namun Allah tak menerima satu pun dari shalatnya.&#8221;</p>
<p>Nah, pertanyaan yang tidak-bisa-tidak akan muncul adalah : seperti apakah shalat yang benar, yang diterima oleh Allah, itu?</p>
<p>Shalat dan Keharusan Khusyuk</p>
<p>Allah berfirman : &#8220;Sesungguhnya shalat itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk&#8221; (QS. : 45). Jika ayat ini dibaca dengan teliti, akan kita dapati bahwa ia memiliki &#8220;pemahaman terbalik&#8221; (inverse logics atau mafhum mukhalafah) bahwa shalat hanya memiliki nilai jika dilakukan dengan khusyuk.</p>
<p>Khusyuk bermakna kesadaran penuh akan kerendahan kehambaan (&#8216;ubudiyah) diri kita sebagai manusia di hadapan keagungan Rububiyyah (Ketuhanan). Sikap khusyuk ini timbul sebagai konsekuensi kecintaan sekaligus ketakutan kita kepada Zat Yang Maha Kasih dan Maha Dahsyat ini. Sebagai implikasinya, orang yang memiliki sikap seperti ini akan berupaya memusatkan seluruh pikiran &#8211; seluruh keberadaannya &#8211; kepada Kehadiran-Nya dan membersihkannya dari apa saja yang selain Allah. Tidak bisa tidak ini berarti hadirnya hati. Tanpa kehadiran hati, shalat kehilangan nilainya. Rasulullah bersabda : &#8220;Shalat yang diterima adalah sekadar hadirnya hati.&#8221;</p>
<p>Diriwayatkan pula darinya saaw. bahwa &#8220;dua rakaat shalat orang yang khusyuk lebih bernilai ketimbang 1000 rakaat shalat orang yang tak peduli.&#8221; Kepada Abu Dzar Rasul saaw. mengajarkan : &#8220;Dua rakaat shalat pendek yang disertai dengan tafakur adalah lebih baik dari shalat sepanjang malam dengan hati yang lalai.&#8221;</p>
<p>Di kesempatan lain Rasul saaw. menamsilkan :</p>
<p>&#8220;Tak akan diterima shalat seseorang yang dilakukan bagai seekor burung yang mematuk-matuk makanannya.&#8221; Mudah dipahami bahwa seekor burung &#8212; sebagai hewan, yang tak memiliki hati atu perasan sebagimana manusia &#8211; yang sedang mematuk-matuk makanannya melakukan hal itu secara instinktif, sebagai bagian dari keharusannya untuk bertahan hidup Berbeda halnya dengan manusia. Bahkan ketika sedang kelaparan, manusia menikmati <a href="http://koeaingpisan.blogspot.com/2006/08/alif-si-boedak-gerilja-ii.html">makanannya</a> itu.</p>
<p>Bukan hanya melahapnya, atau bahkan sekadar menikmati rasanya, melainkan juga menghayati cara penyajian dan suasana yang melingkupi waktu makan itu. Apatah pula ketika ia sedang menghadap kepada suatu Zat yang Maha Agung sekaligus Maha Lambut (Lathif) sebagaimana Allah Subhana-Hu wa Ta&#8217;ala. Jika hati tiada hadir, maka apa makna shalat, yang dikatakan sebagai sarana pertemuan kita dengan-Nya?</p>
<p>Note: <em>&#8220;Sesungguhnya sebaik-baik amal di sisi Allah pada hari kiamat adalah shalat&#8230;.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bonjer.net/hakikat-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuhan Sembilan Senti</title>
		<link>http://www.bonjer.net/tuhan-sembilan-senti#utm_source=feed&amp;utm_medium=feed&amp;utm_campaign=feed</link>
		<comments>http://www.bonjer.net/tuhan-sembilan-senti#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Aug 2011 12:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bonjer.net/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[


Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira
nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>Tuhan Sembilan Senti<br />
<a href="http://wisben.com/modules.php?op=modload&amp;name=News&amp;file=index&amp;catid=&amp;topic=25"></a>Oleh Taufiq Ismail</p>
<p>Indonesia adalah <a href="http://www.wisben.com/modules.php?op=modload&amp;name=News&amp;file=article&amp;sid=558">sorga</a> luar biasa ramah bagi perokok,<br />
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,</p>
<p>Di sawah petani merokok,<br />
di pabrik pekerja merokok,<br />
di kantor pegawai merokok,<br />
di kabinet menteri merokok,<br />
di reses parlemen anggota DPR merokok,<br />
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira<br />
nongkrong merokok,<br />
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,<br />
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,<br />
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,<br />
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,&#8230;.</p>
<p>Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na&#8217;im sangat ramah bagi perokok,<br />
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,</p>
<p>Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,<br />
di ruang kepala sekolah&#8230;ada guru merokok,<br />
di kampus mahasiswa merokok,<br />
di ruang kuliah dosen merokok,<br />
di rapat POMG orang tua murid merokok,<br />
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara<br />
merokok,</p>
<p>Di angkot Kijang penumpang merokok,<br />
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,<br />
di loket penjualan karcis orang merokok,<br />
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,<br />
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,<br />
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari<br />
pula merokok,</p>
<p>Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,<br />
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,</p>
<p>Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan   baru, diam-diam menguasai kita,</p>
<p>Di pasar orang merokok,<br />
di warung Tegal pengunjung merokok,<br />
di restoran, di toko buku orang merokok,<br />
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,</p>
<p>Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,<br />
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur<br />
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,</p>
<p>Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling<br />
menularkan HIV-AIDS sesamanya,<br />
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.<br />
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok<br />
di kantor atau di stopan bus,<br />
kita ketularan penyakitnya.<br />
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,</p>
<p>Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di<br />
dunia,<br />
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa<br />
ketularan kena,</p>
<p>Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,<br />
di apotik yang antri obat merokok,<br />
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,<br />
di ruang tunggu dokter pasien merokok,<br />
dan ada juga dokter-dokter merokok,</p>
<p>Istirahat main tenis orang merokok,<br />
di pinggir lapangan voli orang merokok,<br />
menyandang raket badminton orang merokok,<br />
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,<br />
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen<br />
sepakbola<br />
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,</p>
<p>Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil &#8216;ek-&#8217;ek orang goblok merokok,<br />
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,<br />
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang<br />
goblok merokok,</p>
<p>Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na&#8217;im sangat ramah bagi orang<br />
perokok,<br />
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,</p>
<p>Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,</p>
<p>Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,   duduk sejumlah ulama terhormat<br />
merujuk kitab kuning<br />
dan mempersiapkan sejumlah fatwa.<br />
Mereka ulama ahli hisap.<br />
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.<br />
Bukan ahli hisab ilmu falak,<br />
tapi ahli hisap rokok.</p>
<p>Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala<br />
kecil,<br />
sembilan senti panjangnya,<br />
putih warnanya,<br />
kemana-mana dibawa dengan setia,<br />
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,</p>
<p>Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,<br />
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,<br />
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.<br />
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang<br />
sedikit golongan ashabus syimaal?</p>
<p>Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.<br />
Mamnu&#8217;ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.<br />
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.<br />
Haadzihi al ghurfati malii&#8217;atun bi mukayyafi al hawwa&#8217;i.<br />
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.<br />
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.<br />
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.<br />
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.<br />
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?</p>
<p>Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu &#8216;alayhimul khabaaith.<br />
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,<br />
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.</p>
<p>Jadi ini PR untuk para ulama.<br />
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,<br />
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,</p>
<p>Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan   ini.<br />
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,<br />
yaitu ujung rokok mereka.<br />
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.<br />
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai<br />
terbatuk-batuk,</p>
<p>Pada saat sajak ini dibacakan malam hari   ini,<br />
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit   rokok.<br />
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu<br />
lintas,</p>
<p>lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,<br />
cuma setingkat di bawah korban narkoba,</p>
<p>Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat<br />
berkuasa di negara kita,<br />
jutaan jumlahnya,<br />
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,<br />
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,<br />
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,</p>
<p>Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,<br />
tidak perlu ruku&#8217; dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,<br />
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan<br />
api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,</p>
<p>Rabbana, beri kami <a href="http://www.wisben.com/modules.php?op=modload&amp;name=News&amp;file=article&amp;sid=536">kekuatan</a> menghadapi berhala-berhala ini.</p>
<p>Note: <em>lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,<br />
cuma setingkat di bawah korban narkoba,</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bonjer.net/tuhan-sembilan-senti/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

